Jakarta (pilar.id) – Dalam persaingan global yang semakin ketat, pemerintah mendatang diharapkan untuk menjaga fokus pada pengembangan sektor ekonomi. Hal ini dianggap kunci untuk memastikan bahwa Indonesia dapat memanfaatkan potensi bonus demografi secara positif.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Andika Perkasa saat memberikan kuliah umum di Aula Nurcholish Madjid, Kampus Universitas Paramadina, Jakarta, Senin (16/10/2023).
Dalam kesempatan itu, Andika menyuguhkan tema kuliah umum bertajuk ‘Penguatan Soft Power dan Diplomasi Indonesia di Tengah Dinamika Geopolitik Kawasan’.
“Anda harus memfokuskan upaya pada sektor ekonomi di masa depan. Teknologi akan memainkan peran penting dalam pencapaian ini,” ujar Panglima TNI periode 2021-2022.
Andika menekankan bahwa kemajuan dalam teknologi dapat menghasilkan pencapaian yang lebih tinggi. “Teknologi memiliki potensi untuk menjadi faktor pelipatganda,” katanya.
Menurut Andika, teknologi saat ini telah mencapai tingkat kedewasaan tertentu. Oleh karena itu, teknologi juga dapat digunakan untuk meningkatkan sektor pendidikan. Dia menyatakan bahwa pengembangan sekolah virtual adalah salah satu opsi yang bisa diambil di masa depan.
“Di masa depan, penggunaan kecerdasan buatan dalam pembelajaran bisa dilakukan. Ini sudah mulai diterapkan di beberapa tempat di Amerika Serikat,” ungkap Andika.
Selain itu, Andika juga memberikan pesan kepada Generasi Z (Gen-Z) untuk berani menjelajahi minat dan kemampuan mereka dalam menghadapi tantangan masa depan. Dia menekankan bahwa kualitas sumber daya manusia Indonesia tetap mampu bersaing dengan negara maju. Oleh karena itu, Gen-Z tidak perlu merasa cemas dalam berkompetisi dengan dunia luar.
“Gen-Z seharusnya terus membangun soft power. Pilihan dan peluang ada di tangan Gen-Z sendiri karena masa depan tergantung pada generasi ini. Kualitas kita juga tidak kalah dengan mereka yang berasal dari negara maju,” kata Andika.
Acara tersebut juga dihadiri oleh Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini. Aula Nurcholis Majid dipenuhi oleh lebih dari 200 mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional yang dengan antusias mengikuti kuliah tamu ini. (hen/ted)










