Jakarta (pilar.id) – Ganjar Pranowo menegaskan bahwa bagi-bagi kursi jabatan kepada para pendukung dan tim sukses (timses) tidak akan menjadi kebijakan dalam pemerintahannya. Dalam beberapa kesempatan, Ganjar menyatakan komitmennya untuk menerapkan sistem meritokrasi dalam penyusunan kabinet jika diberi amanah memimpin.
Penegasan tersebut kembali disampaikan Ganjar saat menghadiri acara Dialog Apindo di Menara Bank Mega Jakarta pada Rabu (13/12/2023). Ganjar menekankan bahwa para pendukungnya, termasuk Ketua TPN, Arsjad Rasjid, tidak secara otomatis akan mendapatkan posisi menteri.
“Di sini ada mas Arsjad, nanti teman-teman Apindo bisa ngobrol. Beliau tim saya, tapi tidak otomatis jadi menteri,” ungkap Ganjar dengan nada humor.
Pada dialog dengan konsultan Inkindo di Hotel Sahid Jakarta pada Kamis (14/12/2023), Ganjar kembali menegaskan komitmennya terhadap sistem meritokrasi. Kali ini, Ganjar menyebutkan bahwa Ketua Umum IA ITB, Gembong Primadjaja, meskipun merupakan orang yang membantu dengan tulus, belum tentu akan menjadi menteri.
“Bapak ibu, mohon maaf saya tidak bisa lama karena harus ke Jabar. Di sini ada tim saya, ada mas Gembong nanti melanjutkan. Beliau ini orang hebat yang dengan tulus membantu saya. Tapi belum tentu jadi menteri saya lho nanti,” ucap Ganjar.
Ganjar menyampaikan rasa terharu karena memiliki banyak orang hebat di sekitarnya yang membantu tanpa menginginkan jabatan. Dengan komitmennya terhadap meritokrasi, Ganjar berjanji untuk menjalankan pemerintahan ke depan dengan prinsip keadilan dan transparansi.
Sistem meritokrasi yang diterapkan Ganjar sejak menjabat Gubernur Jateng pada 2013 telah membawa perubahan signifikan.
Pengisian jabatan dilakukan secara transparan melalui lelang jabatan dan seleksi terbuka, tanpa adanya praktik suap-menyuap atau korupsi. Semua ASN di Pemprov Jateng yang memenuhi syarat memiliki kesempatan bersaing menduduki jabatan penting berkat sistem meritokrasi yang diterapkan oleh Ganjar. (rio/ted)









