Semarang (pilar.id) – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga kagum dengan sepak terjang produk handycraft Rorokenes yang asli Kita Semarang.
Menteri PPPA Bintang berkesempatan melihat bagaimana workshop yang diberikan Syanaz Nadya Winanto, pemilik brand Rorokenes.
Brand Rorokenes merupakan produk kerajinan tangan mulai dari tas dan dompet terbuat dari kulit asli. Rorokenes sudah mendunia sebab originalitas dan kualitasnya.
Adanya produk Rorokenes yang digawangi perempuan inilah yang mendasari Menteri PPPA Bintang hadir ke Kota Semarang dan melihat bagaimana peran pemberdayaan perempuan di Ibukota Jawa Tengah ini.
“Komitmen yang luar biasa terhadap isu perempuan dan anak di Pemerintah Kota Semarang, itulah yang membuat saya sering datang ke sini,” kata Menteri Bintang dalam Workshop Rorokenes di kediamannya di Ngesrep Kecamatan Banyumanik, Senin 20 Februari 2023.
Menteri Bintang juga bangga dengan gerakan Syanaz memberikan workshop dengan memberdayakan perempuan di kota Semarang.
Peserta workshop diantaranya para ibu-ibu yang memiliki anak-anaknya berkebutuhan khusus dan penyintas KDRT.
Menurutnya, apa yang dilakukan Syanaz sangat komprehensif sebab mencakup pendampingan ketrampilan, ekonomi, bisnis dan motivasi.
“Kami ingin melihat bagaimana ibu-ibu yang boleh dikatakan sebagai penyintas ini bisa mandiri. Mbak Syanaz, saya terima kasih banyak,” katanya.
Sementara itu, Wali kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu mengapresiasi pemilik Rorokenes, Syanaz Nadya Winanto dengan kiprahnya turut andil dalam pembinaan kelompok subsisten Asmaradhana.
“Mbak Syanaz bukan hanya kebanggaan Bank Indonesia saja, tetapi juga Kota Semarang. Beliau sangat luar biasa, pernah waktu itu di Rusia produknya ditahan tidak boleh masuk. Karena waktu itu dikira palsu, dikira produknya Bottega Veneta,” tutur perempuan yang akrab dipanggil Ita.
17 Ibu-ibu dari kelompok subsisten Asmaradhana sendiri sudah mendapat 2 tahun pendampingan. Pendampingan tersebut mulai dari Bank Indonesia, Syanaz Nadya Winanto, hingga Pemerintah Kota Semarang.
Dengan harapan bahwa Ibu-ibu ini nanti tidak hanya berhenti untuk memberdayakan keluarganya, tetapi juga memberdayakan lingkungan sekitar.
Kisah Tas Godybag Karung Goni Rorokenes Mendunia
Tahukah kalian jika salah satu produk Rorokenes yakni kantung godybag karung goni miliknya pernah disejajarkan dengan merk dunia.
Hal ini terjadi saat insiden pameran di Rusia pada 2019 lalu. Produk Rorokenes godybag karung goni milik Syanaz ditahan Bea Cukai bandara Domodedovo Moscow, Rusia.
Saat itu barang yang tertahan untuk pameran di Rusia diantaranya produk sampel pameran sebanyak 11 buah tas dari kulit domba dan tenun, 1 buah tas jenis dompet, dan 50 buah gody bag dari karung goni.
Pihak Bea Cukai Bandara Domodedovo Moscow, Rusia, menaruh curiga dengan harga dari produk Rorokenes. Bahkan menilai sejajar dengan produk merk dunia seperti Louis Vuitton, Bottega, Chanel, Gucci, Hermes, atau Dolce Gabbana.
Butuh waktu 24 hari pihak Bea Cukai Rusia untuk mengkurasi dan mengecek secata komprehensif di laboratorium terkait harga dan bahan produk itu terbuat. Barangnya pun ditahan sementara waktu.
Saat sudah lewat 24 hari, ia kemudian dikabari jika produk sampel Rorokenes miliknya ditaksir nilainya 8 ribuan dolar.
Nilai yang cukup membuat syok bagi
lulusan Master Development Management Asian Institute of Management Manila Philipina itu.
Nilai itu, kata Syanaz lebih tinggi dari harga yang dia kenakan kepada pelanggannya baik untuk harga ekspor maupun pada harga eceran tertinggi.
Menurut taksiran breakdown harga itu, tas kulit domba dikurasi sekitar 600 dolar atau setara Rp 9 juta, padahal dia menjual harga tertinggi Rp 3 juta.
Hal yang sama pada godybag karung goni yang dibreakdown 20 dolar atau Rp 280 ribu, padahal dia jual hanya 8 dolar atau Rp 110 ribu.
Barang-barang tersebut ditahan di Bea Cukai Rusia, sedangkan dirinya dan rombongan lainnya sudah balik ke Tanah Air.
“Syok karena nilainya tinggi dan saya gak kuat nebus mengambil kembali,” katanya.
Namun begitu, dia berbangga, produknya telah dinilai secara internasional dengan harga yang cukup fantastis.
Bahkan karena lamanya pemeriksaan di Bea Cukai Rusia, oleh petugas, Syanaz sempat disebut jika produknya sama kualitasnya dengan produk kenamaan brand dunia lainnya seperti Louis Vuitton, Bottega, Chanel, Gucci, Hermes, atau Dolce Gabbana.
“Jadi saya juga sebenarnya ngejar nilai kurasi itu, lumayan lah bisa dikurasi secara gratis oleh negara Eropa,” katanya tertawa.
Dari kejadian itu, pesanan handycraftnya melonjak tajam, terutama di tahun 2019 dimana dia sudah close order untuk dua bulan pemesanan.
Syahnaz menceritakan semua produk dia buat di rumahnya yang sekaligus sebagai toko displaynya. Pelanggannya sudah paham dan akan hilir mudik mendatangi rumahnya di Jalan Bukit Putri Nomor 17 Bukit Sari Kota Semarang.
“Produk saya juga sustainable development, 90 persen lokal dan saya menolak menggunakan kulit buaya, landak, ular atau hewan yang dilindungi. Saya hanya pakai kulit domba,” katanya.
Dia juga menyebut, kejadian di Rusia berkat nama Rorokenes yang dia sematkan, nama itu merupakan nama panggilan pemberian ibunya waktu kecil.
“Roro artinya anak perempuan, kenes artinya tangguh dan trengginas tapi manis bisa juga diartikan centil tapi sopan. Nama pemberian ibu waktu kecil, saya hidupkan kembali sesuai pesan beliau, Alhamdulilah menjadi berkah,” katanya. (Aam)










