Nganjuk (pilar.id) – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menegaskan bahwa ziarah ke makam almarhumah Marsinah bukan sekadar seremoni simbolik, melainkan wujud nyata penghormatan negara atas perjuangan seorang perempuan buruh yang gigih memperjuangkan keadilan dan hak-hak pekerja di Indonesia.
Dalam kunjungannya ke Pemakaman Umum Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Minggu (19/10), Menteri Arifah menyampaikan bahwa semangat perjuangan Marsinah harus terus hidup dalam setiap kebijakan negara yang berpihak pada kesetaraan dan perlindungan perempuan di dunia kerja.
“Marsinah bukan sekadar sejarah, tapi semangat perjuangan perempuan Indonesia. Kami ingin memastikan bahwa nilai keberanian dan keadilan yang diperjuangkannya terus menjadi landasan dalam memperkuat kebijakan negara,” ujar Menteri PPPA.
Pemerintah, melalui Kementerian PPPA, terus memperkuat perlindungan bagi perempuan pekerja, termasuk melalui revisi Peraturan Menteri PPPA Nomor 1 Tahun 2020 menjadi Permen PPPA Nomor 1 Tahun 2023 tentang Penyediaan Rumah Perlindungan Pekerja Perempuan (RP3) di Tempat Kerja. Kebijakan ini dirancang untuk menyediakan ruang aman, pendampingan, serta sistem pengaduan yang efektif bagi pekerja perempuan agar terbebas dari kekerasan dan diskriminasi.
Dalam momen ziarah tersebut, Menteri PPPA juga menyuarakan pentingnya mengakui Marsinah sebagai Pahlawan Nasional. Menurutnya, Marsinah adalah simbol keberanian yang lahir dari perjuangan akar rumput, bukan dari kekuasaan, melainkan dari keteguhan hati seorang perempuan terhadap keadilan.
“Kami hadir di sini untuk mengenang perjuangan luar biasa seorang perempuan. Semoga perjuangan Marsinah segera diakui secara resmi sebagai pahlawan nasional,” tegas Menteri Arifah.
Ia menambahkan bahwa semangat perjuangan Marsinah harus menjadi inspirasi bagi seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat upaya perlindungan dan pemberdayaan perempuan di sektor ketenagakerjaan. Suara perempuan, menurutnya, harus terus didengar, hak-haknya dijamin, dan kesetaraannya ditegakkan.
“Marsinah meninggalkan warisan keberanian, cinta terhadap keadilan, dan keteguhan dalam memperjuangkan hak. Semangat itu tidak boleh padam, harus terus menyala di hati setiap perempuan Indonesia,” ungkap Menteri PPPA.
Kegiatan ziarah ini turut dihadiri oleh Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, dan Wakil Bupati Tri Handhy Cahyo Saputro. Keduanya menyambut baik langkah Kementerian PPPA dalam menjadikan perjuangan Marsinah sebagai refleksi kebijakan negara dalam mewujudkan lingkungan kerja yang adil dan aman bagi perempuan. (ret)










